12

Jan
2019

Ditolak Bekerja Karena Berhijab, Hajar Angun Sukses Jadi Freelancer

Posted By : Willova Fashion/ 11 0

#AkuPerempuan: Karena setiap perempuan bisa kuat dari manapun

Ditolak Bekerja Karena Berhijab, Hajar Angun Sukses Jadi Freelancer

instagram.com/hajar_angun

Anne Yaa

I

Indonesia merupakan negara berpenduduk muslim terbesar didunia. Mayoritas umat muslim di Indonesia khususnya wanita berhijab diperbolehkan untuk bekerja.

Lain di negara-negara Eropa, kebiasaan -kebiasaan umat islam sehari-hari lainya seperti suara Adzan, sholat 5 waktu. Itu dianggap sebagai urusan pribadi dan tidak boleh mengganggu kepentingan publik seperti saat bekerja.

Tak heran jika banyak wanita berhijab  di Eropa khususnya Jerman mendapat berbagai kesulitan dalam bekerja.

Siti hajar Anggun adalah wanita berhijab Indonesia yang dulunya tinggal di Kota Medan  Kini ia menetap di Kota Stuttgart , negara bagian Baden-Wurttemberg, Jerman.

tak jarang Siti Hajar mendapatkan berbagai cobaan dalam menjalankan kehidupan dan ajaran agamanya.

1. Berawal dari kelas bahasa di SMA

Ditolak Bekerja Karena Berhijab, Hajar Angun Sukses Jadi Freelancer

instagram.com/hajar_angun

Ia sadar  bahwa kemampuan yang dimiliki bukan di Jurusan IPA, Siti Hajar yang masih duduk sekolah di MAN 2 Model Medan memilih Jurusan Bahasa.

Selain banyak belajar tentang Sastra dan Sejarah, ia belajar Bahasa Jerman untuk Pertama kalinya.

Sejak itulah ketertarikanya terhadap negara yang porak poranda akibat Perang Dunia II itu semakin mengebu-gebu dan berambisi untuk menginjakan jejak kakinya di Negara Jerman

Saya tak ingin memaksa masuk kelas IPA agar terlihat pintar dan keren”.ujar Siti Hajar

Meskipun saat itu jurusan Bahasa adalah jurusan  sepi peminat, tapi hati kecil saya berkata bahwa ini adalah dunia saya.

Terbukti saya sangat nyaman dan bahagia dua tahun berada di jurusan itu,” ucapnya sambil mengenang masa remajanya di SMA.

2. Tak punya biaya ke Jerman

Ditolak Bekerja Karena Berhijab, Hajar Angun Sukses Jadi Freelancer

Pada saat di terima sebagai Mahasiswi di Jurusan Pendidikan Bahasa Jerman Universitas Negeri Medan, Keinginanya untuk merantau Ke Jerman semakin tak terbendung.

Bahwa keadaan Orang tua yang belum mampu, membuat Siti Hajar tidak akan menyusahkan orang tuanya.

Dia sendiri pun tidak memiliki tabungan yang cukup untuk pergi ke negara Jerman.

Wanita kelahiran 28 Oktober ini memutar otak mencari jalan lain dengan mencalonkan diri untuk program pertukaran budaya di Jerman melalui sebuah website.

“Orangtua saya memang tak punya uang untuk memberangkatkan saya ke Jerman. Tapi doa orangtua itu lebih dari segalanya. Saya hanya butuh doa mereka di sepanjang hidup saya karena doa orangtua untuk anaknya sangat mudah dikabulkan Allah” Ujar Siti Hajar.

Berkat dari doa dan dukungan kedua orang tuanya ia berhasil terbang ke Jerman Pada Februari 2012 nyaris tanpa biaya.Semua biaya keberangkatanya di biayai oleh pengusaha Jerman.

3. Menjadi guru ngaji dan tourguide jelajah masjid

Ditolak Bekerja Karena Berhijab, Hajar Angun Sukses Jadi Freelancer

instagram.com/hajar_angun

Ternyata Jerman tidak seperti apa yang dibayangkan oleh siti Hajar. Ia tinggal di komunitas masyarakat lokal, berbagai kesulitan ia dapatkan.

Ia sulit beribadah di jam kerja dan Sekolah lain dengan Indonesia. Selain tidak ada tempat untuk beribadah, juga sulit menjelaskan hal tersebut kepada atasanya.

Akhirnya ia memutuskan pindah ke daerah lain dan bergabung dengan komunitas Turki di kota Schwäbisch Hall.

Dikota tersebut Siti Hajar mendapatkan keluarga baru. Kedatanganya disambut baik komunitas Turki.

Ia rajin mengikuti berbagai kegiatan ke agamaan di masjid setempat,Selain itu ia bisa terus  melanjutkan Sekolah Bahasa Jerman.

Akibat ketekunannya beribadah di masjid Siti Hajar  di minta untuk mengajar ngaji anak-anak muslim setempat dan menjadi Tourguide jelajah masjid.

“Jerman menyadarkan saya bahwa ilmu agama saya masih sangat dangkal. Saya malu dengan orang-orang non muslim Jerman yang mau mengunjungi mesjid untuk mendapatkan pengetahuan tentang islam karena bagi mereka islam itu bukan sekedar agama, melainkan ilmu pengetahuan. Dan mereka adalah pemburu ilmu pengetahuan,” jelasnya

4. Cinta dan kehilangan

Ditolak Bekerja Karena Berhijab, Hajar Angun Sukses Jadi Freelancer

instagram.com/hajar_angun

Akhirnya Siti hajar menikah dengan seseorang pria yang bersal dari Turki yang baru ia kenal. Hal itu menimbulkan kontra.

Keputusannya untuk menikahi lelaki yang langsung mengajaknya menikah di pertemuan pertama mereka itu memunculkan cibiran dan keraguan dari orang-orang yang mengenalnya.

“Jodoh itu soal kemantapan hati dan kecocokan jiwa. Saya merasa satu visi dan misi dengan dia untuk menjalani masa depan. Tidak ada yang salah bukan dengan pernikahan saya?” ujarnya.

Namun semuanya tak berjalan lancar. Siti Hajar terpaksa pulang ke Indonesia karena visanya tidak bisa diperpanjang di Jerman dan menjalani hubungan jauh terhadap suaminya.

Belum selesai urusan visa, nasib buruk terus menimpanya. Ia terpaksa kehilangan bayinya yang berumur dua hari untuk selama-lamanya serta kehilangan teman temanya.

5. Karir di masa penantian

Ditolak Bekerja Karena Berhijab, Hajar Angun Sukses Jadi Freelancer

instagram

com/hajar_angun

Akhirnya Siti Hajar kembali mencoba untuk mendapatkan visanya ke Jerman. Disaat itu sama negara- negara Eropa sedang dilanda gelombang besar .

Kedatangan pengungsi dari negara-negara terdampak perang seperti syria. Membuat Pemerintah Jerman semakin memperketat peraturan pembuatan visa untuk mengurangi membludaknya imigran gelap.

Memiliki nama Islami membuatnya masuk dalam daftar random check di Kedutaan Jerman di Jakarta.

Di saat yang sama pula ia tak ingin menyia-nyiakan waktunya di Jakarta sembari menantikan nasib visanya.

Ia menjadi pengajar Bahasa Jerman di pusat pendidikan bahasa asing Jakarta Utara, Rumah Bahasa dan di bimbingan belajar intersmart.

Tak hanya itu, ia juga menjadi pemandu wisata freelance. Tamu-tamu yang ia bawa umumnya berasal dari Amerika dan Eropa.

6. Hidup baru

Ditolak Bekerja Karena Berhijab, Hajar Angun Sukses Jadi Freelancer

instagram.com/hajar_angun

Namanya yang sudah masuk rekam jejak penolakan di Kedutaan Jerman membuat langkah Siti Hajar untuk bisa kembali ke Jerman tak semudah membalikkan telapak tangan.

Hampir dua tahun penantian dengan berbagai cobaan kehilangan, akhirnya Siti Hajar bisa mendapatkan visa Jermannya kembali setelah melalui wawancara eksklusif selama kurang lebih enam jam lamanya di sebuah ruangan khusus di Kedutaan Jerman di Jakarta.

“Allah tetap bekerja sampai didetik terakhir. Hari itu adalah batas terakhir penantian visa saya dan saya pesimis. Saya sudah merencanakan untuk melanjutkan hidup dan karir saya di Indonesia karena saya sudah lelah dengan segala surat-surat di tiga negara Jerman, Indonesia dan Turki. Saya ingin melangkah lebih maju. Setelah saya berhenti berharap, ternyata Kedutaan Jerman mengabulkan permohonan visa saya. Ketika kita sudah ada dititik ikhlas, justru kita mendapatkan hal yang kita pikir sudah tidak mungkin terjadi.” kisahnya mengenang lika-liku perjuangannya mendapatkan kembali visa Jerman.

Awal tahun 2015 Siti Hajar kembali hijrah ke Jerman, tepatnya sehari setelah wanita yang juga hobi memasak itu menerima visa Jermannya.

Kepergian yang terburu-buru itupun membuatnya tak banyak mengantongi rencana jalan kehidupannya kedepan karena semua di luar dugaannya.

7. Terkena efek islamophobia di Jerman

Ditolak Bekerja Karena Berhijab, Hajar Angun Sukses Jadi Freelancer

instagram.com/hajar_angun

Kembali ke Jerman dan menetap di Kota Stuttgart, banyak yang berubah dari kota yang disebut-sebut sebagai kota paling minim stres di dunia ini.

Sangat berbeda saat ia mengunjungi kota itu pada tahun 2012 silam. Banyak pengungsi Syria dimana-mana. Bahkan di pusat kota juga terlihat tenda-tenda pengungsi yang belum mendapatkan tempat penampungan.

Keputusan pemerintah Jerman saat itu untuk membuka pintu mereka dan mempersilahkan para pengungsi masuk banyak menimbulkan demonstrasi dari rakyatnya yang kontra.

Akibatnya kembali muncul islamophobia yang sebelumnya juga pernah terjadi terhadap kaum muslim.

Pemeritah Jerman Tidak memperdulikan apakah itu pengungsi ataupun muslim yang datang melalui jalur resmi seperti Siti Hajar, banyak tatapan sinis terhadap orang muslim khususnya wanita berhijab.

Tak hanya karena masalah pengungsi, berbagai kejadian pengeboman dan serangan di negara-negara Eropa yang mengatasnamakan islam juga berdampak meledaknya islamophobia.

Bersyukur Siti Hajar tinggal di daerah eks Jerman Barat yang lebih minim rasisme dibandingkan daerah eks Jerman timur. Namun, hijabers ini juga tak luput dari aksi rasisme.

Hijabnya pernah ditarik dari belakang oleh seorang nenek saat sedang mengantri di kasir di sebuah supermarket. Tak hanya itu, beberapa orang juga sempat melontarkan kata-kata sinis kepadanya.

Tak jarang pula ia mendapatkan pandangan sinis dari orang-orang yang ia temui.

“Saya bersyukur karena tidak ada perlakuan rasis yang melewati batas wajar. Islam tidak mengajarkan saya untuk membalas perbuatan buruk dengan yang buruk, melainkan dengan kebaikan. Tugas saya sebagai seorang muslim untuk menyebarkan kebaikan, khususnya kepada mereka yang belum paham dan masih menganggap bahwa agama islam mengajarkan kekerasan dan terorisme. Lagipula ini adalah negara mereka dan mereka tidak biasa dengan hal-hal yang berbau Islami. Tidak semua orang Jerman rasis, banyak juga yang baik.”

8. Ditolak sekolah dan bekerja karena berhijab

Ditolak Bekerja Karena Berhijab, Hajar Angun Sukses Jadi Freelancer

instagram.com/hajar_angun

Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk mengumpulkan pengalaman bekerja di tanah rantau, Siti Hajar melamar Ausbildung di kota tempat ia tinggal.

Ausbildung merupakan sebutan untuk program sekolah sambil bekerja di bidang tertentu karena di Jerman setiap pekerja harus melalui sekolah sesuai dengan bidang pekerjaannya.

Siti hajar  ini memutuskan untuk mengambil jurusan travel and tourguide karena hanya memiliki ketertaikan dibidang itu. Setelah memasukkan lamaran diberbagai tempat, tak satupun yang menerimanya karena ia berhijab.

Ia hanya akan diterima jika ia mau melepaskan hijabnya saat sekolah dan bekerja.

“Saya tidak akan menggadaikan agama saya hanya demi sebuah pekerjaan. Selalu ada pelangi setelah hujan, begitu juga dengan hal-hal pahit yang menimpa saya. Tidak boleh berhijab sudah menjadi aturan mereka. Yang harus saya lakukan adalah mengikuti aturan mereka atau mencari pekerjaan yang membolehkan saya berhijab,” ucapnya optimis.

9. Menulis di blog

Ditolak Bekerja Karena Berhijab, Hajar Angun Sukses Jadi Freelancer

instagram.com/hajar_

Siti Hajar memang sudah memiliki hobby menulis sejak kecil, Siti hajar biasa menyalurkan hobinya melalui blog pribadinya.

Blog yang berisi tentang kehidupannya di benua Eropa itu ternyata memunculkan masalah baru. Orang-orang sekitarnya menganggapnya tak punya kerjaan dan pemalas.

Menjadi blogger tak bergaji dianggap sebagai perbuatan sia-sia dan tak cukup membanggakan.Selain itu, ia juga dianggap sebagai benalu bagi suaminya, meskipun si pria Turki itu tak sedikitpun mempermasalahkan istrinya yang pengangguran.

“Saya tak ingin melakukan sesuatu yang bukan passion saya. Akan sangat menyiksa jika kita tidak mencintai pekerjaan kita. Saya tidak perduli dengan omongan orang karena saya sendirilah yang berhak memutuskan jalan hidup dan kebahagiaan saya.”

10. Dari blogger ke freelance writer

Ditolak Bekerja Karena Berhijab, Hajar Angun Sukses Jadi Freelancer

instagram.com/hajar_angun

Suatu hari Siti Hajar melihat iklan di media sosial untuk menjadi freelance writer di salah satu media yang cukup ternama.

Ia Ingin mengasah kemampuan menulisnya, ia pun mendaftar dan mengirimkan artikel pertamanya di hari itu.

Dalam hitungan jam artikel pertamanya sudah diterbitkan. Pundi-pundi rupiah pun mulai terkumpul dari hasil menulis.

Tak cukup di satu media, wanita 30 tahun ini juga menjadi freelance writer di berbagai media lainnya. Tak ingin terus berada di zona nyaman, Siti Hajar kini juga menjadi citizen journalist di salah satu TV nasional.

“Hinaan dari orang-orang yang merendahkan saya jadikan cambukan penyemangat untuk sukses. Saya selalu optimis dan yakin bahwa saya bisa membangun karir, meskipun saya hanyalah seorang ibu rumahtangga. Karena wanita itu terlahir bukan hanya untuk melakukan pekerjaan rumahtangga, tetapi juga membangun karir sesuai dengan passionnya.”

Tidak ada usaha yang mengkhianati hasil. Kerja kerasnya membuat orang yang pernah meremehkannya satu per satu mulai berbalik arah.

Cibiran sinis berubah menjadi pujian bangga. Wanita berhijab ini memiliki sifat cuek ini tak perduli apapun reaksi orang, baginya yang terpenting adalah dukungan orang-orang terdekatnya.

Hijabers penyuka makanan pedas ini masih merasa belum puas dengan pekerjaannya. Kini ia mencoba dunia vlogging.

Meskipun sibuk sebagai jurnalis dan penulis, Siti Hajar tetap aktiv diberbagai perkumpulan di daerahnya. Hijab tak menghalanginya untuk beraktivitas dan berkarir.

“Tidak mudah menjadi hijabers di negeri empat musim ini. Tak kenal maka tak sayang. Siapapun yang belum mengenal saya kebanyakan memandang sinis, tapi disini saya juga punya banyak teman non muslim sampai yang tak beragama. Kami bisa menjalin hubungan yang sangat baik karena kami bisa saling menghargai,” tutupnya.

“Tak ada kehidupan tanpa cobaan. Hanya orang-orang hebat dan kuatlah yang berhasil melewati lika-liku kehidupan tersebut dengan senyuman kebahagiaan. Siti Hajar Angun telah membuktikan, kesuksesan harus melalui proses yang panjang.”

Leave your comment

Please enter comment.
Please enter your name.
Please enter your email address.
Please enter a valid email address.